Manajemen Produksi Kebun untuk Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit dengan Penerapan Sistem Pendukung Keputusan
Dosen Peneliti:
Dr. Ir. Hermantoro, MS.
Ir. Gani Supriyanto, MP.
Dr. Ir. Candra Ginting, MP.
Arief Ika Uktoro, STP., M.Sc.
Dr. Ir. Sigit Prabawa, M.Si.
Prof. Dr. Ir. Edy Martono, M.Sc.
Dr. Ir. Hermantoro, MS.
Ir. Gani Supriyanto, MP.
Dr. Ir. Candra Ginting, MP.
Arief Ika Uktoro, STP., M.Sc.
Dr. Ir. Sigit Prabawa, M.Si.
Prof. Dr. Ir. Edy Martono, M.Sc.
Produksi minyak kelapa sawit Indonesia tahun 2014 mencapai 31.5 juta dimana jumlah tesebut menunjukkan telah terjadi peningkatan yang stabil selama 20 tahun terakhir sebesar 11% setiap tahunnya. Pada tahun 2020 diperkirakan CPO Indonesia dapat mencapai 40 juta ton, sementara permintaan konsumsi minyak kelapa sawit dunia diperkirakan mencapai 180 juta ton, dimana sekitar 55 persen dari kebutuhan minyak sawit dunia tersebut diperkirakan akan dipasok Indonesia. Posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar kelapa sawit di dunia dengan negara tujuan utama Cina, Belanda, India, Amerika, Italia, Jerman dan lainnya tidak terlepas dari beberapa hal yang mendukung Indonesia untuk tetap mempertahankan hegemoni sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, diantaranya yaitu iklim, tenaga kerja, dan kesediaan lahan yang masih cukup banyak sekitar 16 juta - 17 juta hektar (BPDPKS, 2015)
Tingkat produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan biofisik di sekitarnya. Pada keadaan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan/ persyaratan tumbuh tanaman akan diperoleh produksi yang tinggi, sebaliknya pada keadaan lingkungan yang kurang cocok tidak akan diperoleh produksi yang memadai. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produksi tanaman merupakan fungsi dari karakteristik/kualitas lahan disekitarnya.
Tingkat produksi yang mungkin dicapai dari suatu kebun kelapa sawit adalah merupakan hasil interaksi antara faktor potensi genetik varietas tanaman, lingkungan tempat tumbuhnya, dan pengelolaan dalam budidayanya. Produksi tinggi akan dicapai jika digunakan varietas sawit unggul dan ditanam di lokasi yang paling sesuai dengan menerapkan pengelolaan yang baik. Iklim dan karakteristik tanah/lahan adalah faktor lingkungan penting yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi untuk pengusahaan kelapa sawit.
Pada kondisi kualitas biofisik lahan tertentu maka produksi tanaman kelapa sawit akan sangat ditenukan oleh pemupukan dan pengendalian hama- penyakit. Dengan demikian maka penyusunan Sistem Pendukung Keputusan untuk manajemen pemupukan dan pengendalian hama penyakit sangat baik dilakukan dalam usaha untuk meningkatkan produksi kelapa sawit