WEBINAR SERIES 4 INSTIPER

Setelah sukses menyelenggarakan webinar series 1-3, INSTIPER kembali menyelenggarakan webinar series 4 dengan tema “Integrating the ICT, Mechanization, Automation in Agro and Forestry Industry”. Diselenggarakan pada (24/11) lalu, webinar ini menghadirkan 4 pembicara yang ahli di bidangnya.

Keempat narasumber tersebut adalah Bambang Setiawan, S.P. selaku Head of Quality Assurance PT. Perkebunan Nusantara X, Trisunu Hartono selaku Advisor Agronomy PT. Astra Agro Lestari (AAL) Tbk, Dedi Ali Mustafa, S. Hut selaku GIS Manager PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dan Dede Satria Maulana, S.T selaku Manager Engineering RnD PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (FROGS Indonesia). Webinar tersebut dimoderatori oleh Lisma Safitri, S.TP., M.Si yang merupakan dosen Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER.

Webinar yang merupakan rangkaian Dies Natalis INSTIPER ke-62 ini dibuka langsung oleh Rektor INSTIPER Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. Dalam sambutannya, Rektor INSTIPER menyampaikan, “Saya mengucapkan terimakasih kepada narasumber dan peserta yang sudah bersedia memberikan materi dan meluangkan waktu untuk mengikuti  seminar ini. Tujuan utama seminar ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang penerapan teknologi dan informasi di bidang pertanian dan menjalin link and match antara Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) dan perusahaan pengembang dan pengguna teknologi, serta menjadi media brainstorming terhadap isu-isu pertanian terkini”.

Pertanian di Indonesia memegang peranan penting dalam memajukan perekonomian masyarakat, namun setiap tahunnya petani masih mengalami banyak kesulitan. Melalui agricultural technology, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian, serta memudahkan pengelola sektor pertanian baik perkebunan maupun kehutanan untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Selain agricultural technology, melalui perkembangan teknologi dalam sektor pertanian sangat berperan penting.

Mengingat saat ini peningkatan produksi melalui ekstensifikasi sudah tidak memungkinkan dilakukan karena maraknya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian seperti pemukiman dan industry. Sadar akan hal tersebut, maka pemanfaatan ICT menjadi hal yang mutlak untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Teknologi sensor dan otomasi dibidang pertanian saat ini tengah dikembangkan dan mendapat perhatian khusus.

Bambang Setiawan selaku narasumber dari PTPN X menyampaikan, “Di era Industri 4.0 PTPN X sudah melakukan Monitoring Field (MF) menggunakan aplikasI E-Farming, dengan menggunakan aplikasi tersebut kita dapat melakukan 4 pekerjaan sekaligus: pelaporan kegiatan kebun terupdate, taksasi produksi terkini, update atribut kebun, dan supervisi kebun secara mandiri. Selain itu di PTPN X juga sudah menggunakan teknologi Core Sampler (Sugar Cane Core Sampler).

Trisunu Hartono dari PT. AAL Tbk menyampaikan, “Komitmen manajemen PT Astra Agro Lestari sangat serius dalam implementasi mekanisasi untuk mencapai target peningkatan produktifitas dan kualitas operasional. Salah satu contoh implementasi mekanisasi adalah untuk evakuasi TBS menggunakan traktor scisorlift  dengan kapasitas 18 ton/unit untuk coverage 35 ha, pemakaian wintor dengan kapasitas 10 ton/unit untuk coverage 20 ha. Pemakaian mekanisasi telah menurunkan norma dari 0,07 hk/ha menjdai 0,058 hk/ha. Dengan penggunaan unit mekanisasi tersebut menjadikan proses evakuasi sampai ke pabrik menjadi lebih cepat sehingga kualitas TBS terjaga”.

Dedi Ali Mustafa dari PT. RAPP menyampaikan, “Ada beberapa tantangan terbesar pengelolaan hutan tanaman seperti: ekologi hutan, pemilihan spesies, pemupukan, pests. Dari tantangan tersebut, mulai tahun 2004 RAPP telah membangun sistem teknologi gigital menggunakan sensor UAV untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di lapangan. Kelebihan UAV selain lebih cepat dan lebih murah, hasilnya pun mendekati waktu yang nyata, membutuhkan lebih sedikit orang dilapangan, peningkatan akurasi survey di lapangan”.

Dede Satria Maulana dari  FROGS Indonesia menyampaikan, “Drone mempunyai banyak fungsi salah satunya untukm penyemprotan lahan. Penyemprotan menggunakan drone akan lebih cepat yaitu 10 ha dalam 15 menit, peningkatan efisiensi, dan bahan yang kita semprotkan bisa terukur dan merata dan akurat”.

Perkembangan teknologi dalam bidang pertanian, harus teraplikasikan secara global di Indonesia. Melalui webinar ini, diharapkan menjadi salah satu langkah memberikan pandangan dan pengetahuan pada masyarakat luas akan pentingnya penerapan teknologi khususnya di bidang pertanian, perkebunan, dan kehutanan.