Saatnya IKM Terapkan Teknologi Sistem Cerdas

Sejak 63 tahun lalu, para pendiri Institut Pertanian Stiper Yogyakarta sadar akan kebutuhan perkembangan industri. Tak sekadar mencetak sumber daya manusia yang unggul dan adaptif, tetapi bagaimana berperan mendorong pengayaan ilmu dan teknologi khususnya untuk industri perkebunan, pertanian, dan perhutanan. 
Di era pendidikan 4.0, pola pembelajaran yang diusung Institut Pertanian Stiper(Instiper) berorientasi pada link and match dengan kebutuhan industri, dunia kerja, dan kebutuhan masyarakat, sehingga tak heran apabila lulusan yang dihasilkan pun adalah lulusan yang siap kerja.
"Kami di Instiper selalu mencari jalan bagaimana teknologi industri ini bisa dipakai, dan bagaimana agar industri tidak kehilangan produktivitas (losses) karena ketidakmampuan manusia menangani sesuatu, padahal itu bisa diatasi dengan teknologi," kata Rektor Instiper Harsawardana, saat ditemui di Kampus Instiper Yogyakarta, 2 Desember 2021.
Kepada Tim GEMA, Harsawardana berbicara mengenai pentingnya adopsi teknologi bagi industri. Industri kecil dan menengah, hingga industri besar, menurut Harsawardana, perlu segera menggunakan teknologi 4.0 dalam proses produksinya. Berikut kutipan wawancara Harsawardana mengenai urgensi implementasi teknologi industri 4.0 di dunia industri, dan pentingnya kemampuan SDM untuk menguasai teknologi tersebut.
Di dunia industri, ada pandangan yang menyebutkan bahwa adopsi teknologi industri 4.0 hanya bisa dilakukan oleh industry besar. Sedangkan IKM kesulitan mengimplementasikan teknologi canggih itu. Bagaimana menurut Anda?
Karena selama ini IKM bertanya apakah mungkin di IKM bisa melakukan, mereka berpikiran teknologi 4.0 ini hanya bisa untuk industri besar, itu salah besar. Justru competitive advantage atau keunggulan itu hanya bisa dicapai apabila ada peningkatan tak hanya produk, jadi alat dan sistemnya juga harus cerdas. 
Sebagai contoh perbandingan pada mesin kopi sederhana dengan mesin yang bisa dikendalikan secara penuh otomasi atau system cerdas dan bisa meningkatkan nilai tambah. Satu kilogram kopi kalau diolah dengan mesin kopi asal-asalan, dia tidak akan memunculkan 5 rasa. Kalau misal mesin kopi diotomatisasi, dia bisa menghasilkan 5 rasa, sehingga para barista kalau sudah mengerti tentang nilai tadi, pasti tidak mau menggunakan mesin sederhana.
Itu kenapa IKM harus meningkatkan dengan tambahan sistem otomasi, dan ke depannya dengan sistem cerdas. Nah inilah yang mungkin tidak disadari. Mereka berpikir apakah kami mampu. Nah itu cara berpikir yang salah.
Bagaimana agar lKM mampu mengaplikasikan teknologi industri 4.0 ini?
Di IKM, mestinya juga sudah bisa mengaplikasikan sistem cerdas ini. Sistem cerdas itu artinya bisa memutuskan sesuatu yang zaman dulu harus diputuskan oleh manusia. Di pangan misalnya terkait tingkat kematangan dll. Nah di industri mesin, supaya kompetitif harus bisa sampai ke sana. Kalau sistem modern tidak bisa dilakukan, kita jadi sulit bersaing, karena akan merugikan. Sesuatu yang harusnya bisa menghasilkan lebih.
Jadi sebetulnya transformasi 4.0 itu justru bukan dimulai dari industri besar, tetapi harusnya dari IKM?
IKM itu selalu skeptis, apakah bisa? Mereka harus memilih di segi apakah yang dibutuhkan. Apakah dari sistem manajemen, penerapan pengolahan data, atau dimulai di mesinnya. Nampaknya yang sekarang itu banyak menerapkan untuk manajemen, sedangkan yang mesin itu masih dipandang skeptis. Ini tidak bisa menunggu dari negara karena itu kunci. Ke depan itu competitive advantage. Orang bisa meniru perangkat keras, tapi meniru perangkat lunak? itulah yang mahal di situ. Inilah yang perlu disentuh.  
Karena kalau bicara IKM seolah-olah teknologinya rendah. Itu tidak benar. Hanya memang banyak IKM belum sampai di situ, karena rata-rata orangnya mekanik. Ayo kita bicara teknologi 4.0. Memang betul yang besar-besar yang aplikasikan. Tetapi mari kita lihat bahwa struktur industri besar itu harus didukung industry kecil dan menengah. Tak mungkin mereka berdiri sendiri. Nah kalau kita lihat di negara maju, misal di Jerman, yang memasok industri besar adalah industri kecil. 
IKM ini memang bisa menjadi supply chain atau pendukung, atau bisa jadi menjadi sesuatu yang memang berdiri sendiri menjadi entitas bisnis dengan unggulan tertentu. Keunggulannya bukan hanya dari sisi bentuk karena kalau dari sisi bentuk pasti kalah.
Teknologi 4.0 bisa diterapkan di industri besar, menengah, dan kecil, beberapa bahkan mikro bisa. Kenapa bisa dan harus diadopsi oleh mikro? Karena faktanya di Indonesia ini kan mikro juga banyak sekali.
Sejauh apa urgensi teknologi 4.0 di bidang agro kompleks?
Penting sekali, untuk industri apapun harus dikelola secara komprehensif dari hulu ke hilir, apakah industri turunan, atau industri yang langsung dipakai, dan produk akhir atau produk antara. Ke depannya, kebutuhan teknologi ini semakin massif. Jumlah orang semakin banyak, kebutuhan semakin banyak, sedangkan sumber daya alam semakin berkurang.
Jangan sampai industri losses karena ketidakmampuan manusia menangani. Manusia ada keterbatasan, jadi ruang inilah yang diisi teknologi. Misalnya karena cuaca tidak menentu, kebutuhan semakin cepat, selain kandungan nutrisi yang dibutuhkan khusus, jadi pengkayaan produk itu melalui proses di lapangan. 
Kekhawatiran lain dari IKM barangkali soal pengurangan tenaga kerja?
Sebenarnya bisa saja tenaga kerja itu dialihkan. Contoh CNC mesin, kalau memotong tidak dengan CNC kan tidak sama. Memang tenaga kerja itu harus ditingkatkan, dengan upscaling karena nanti akan semakin murah.
Misal contoh di mesin kopi tadi, kalau mesinnya bisa meningkatkan nilai rasa, ya itu jadi nilai tambah. Sedangkan mesin itu tetap perlu tenaga kerja yang mengoperasikan. Tapi dengan sistem yang otomatis dan cerdas, otomatis ongkos ke orang itu pasti lebih tinggi dari kuantitas dan kualitas. Bayangkan kalau mesin tidak otomatis, untuk produksi yang sama, butuh tenaga yang banyak. Apabila industri tidak kompetitif, makanya bisa tutup. Itu yang terjadi sekarang, mereka tidak mampu beradaptasi dengan saat ini.
Sejauh apa peran Instiper menguatkan kemampuan sumber daya manusia industry 4.0 ini?
Saya kira sebagai salah satu perguruan tinggi yang bergerak di bidang agro kompleks, kita selalu melihat pada teknologi yang relevan, termasuk SDM-nya. Kalau teknologi sudah pesat sedangkan SDM tidak menguasai tentu tidak akan berjalan. Maka butuh pelatihan-pelatihan dan contoh real adalah salah satu cara menguatkan di Indonesia. Kita tidak hanya bicara bisnis, tapi SDM juga.
Lulusan Instiper harus jadi manusia pembelajar, punya disiplin tinggi, kemampuan manajerial dan leadership. Sebagai seseorang yang selalu mau belajar, adaptif dengan cepat. Sama dengan IKM, kalau tidak adaptif bisa tergilas. (Putri Adityowati)

Sumber : Media Informasi & Promosi Industri Kecil, Menengah dan Aneka (GEMA)